My Simple Life

Just another WordPress.com site

Yaudah gapapa

Hidup itu jangan terlalu diambil pusing, cukup dijalani. Ibarat sebuah perjalanan, ada kerikil, ada batu besar, ada pohon tumbang dll di jalan kita, yaudah gapapa, yang penting itu gimana kita mencari cara untuk melewatinya. Skalipun juga hujan, terhadang badai, panas terik dll, yaudah gapapa, yang penting itu gimana caranya kita bisa bertahan untuk melanjutkan perjalanan dan sampai tujuan dengan selamat.

Apa sih tujuan hidup? umm apa ya? aku juga gatau. aku malah mikir kalo tujuan hidup itu adalah mati tapi bukan mati yang biasa aja, tapi mati yang keren, mati dengan banyak pahala, mati dengan meninggalkan bermilyar kebaikan dan kenangan baik, mati dengan baik dan menyebut nama Tuhan dan tentunya emang mati karena Dia yang memanggil bukan bunuh diri.

Jadi kalo itu tujuan hidupku, otomatis aku harus bisa menjalani hidup ini dengan benar dan di jalanNya. Jadi ya aku dalam proses juga ini. Aku berusaha melewati semuanya. Sulit lho, beneran! Salah satu penyemangatku adalah keyakinan bahwa segala halang rintang yang ada di jalanku itu adalah semua dariNya, semua itu rencanaNya, Dialah yang mempunyai rencana terbaik dalam hidupku. Hasilnya nanti adalah yang terbaik, selalu ada hikmah, beneran.

Jadi kalo kamu galau, ayo kita sama-sama percaya dan ikhlasin semua ke Allah. Orang yang kamu taksir suka orang lain, yaudahlah gapapa, rencana Allah lebih indah kok. IP turun, yaudahlah gapapa, teguran buat semester depan harus fokus dan lebih baik. Segala macem urusan banyak kendala, yaudahlah gapapa, pasti ada jalan keluarnya kok dan jangan lupa berdoa. Banyak hal yang membuat khawatir di kemudian hari, yaudahlah gapapa, santai aja men belum tentu terjadi juga jadi jangan khawatir. Lagi super bokek, yaudahlah gapapa, ntar ada juga kok waktunya dapet rejeki. Jadi yaa, rileks lah menjalani hidup, mohonlah agar diberkahi hati yang damai dan kuat, juga berusaha untuk menjadi orang yang lebih baik setiap harinya, insyaAllah, Aamiin..

Anggaplah semua baik-baik saja, maka semesta akan turut mendukung dan semua menjadi baik-baik saja. I believe with God, all things are possible. Seperti mentari yang bersinar tepat pada waktu yang sudah ditentukan, hidup ini akan indah pada waktunya. Jangan lupa, kebahagiaan itu bukan tujuan, tapi perjalanannya. SEMANGAT!

Iklan
Tinggalkan komentar »

MMSPH 5: Antara Kau Dan Aku oleh Darwis Tere Liye

Lantai sebelas sepi. Nyaris semua penghuninya keluar makan siang, hanya ada dua-tiga orang saja yang masih berkutat di depan komputer masingmasing. Dan salah dua di antaranya adalah gadis dan pemuda yang duduk jauh berseberangan itu. Terpisah oleh meja-meja dan partisi setinggi pundak, juga dispenser dan printer sentral multi fungsi di tengahtengah ruangan.
 
Tetapi entah siapa yang menyusun berbagai halangan tersebut, disengaja atau tidak, mereka berdua tetap masih bisa saling melihat dari sela-sela berbagai barang. Untuk ukuran sejauh itu tidak jelas benar memang paras muka masing-masing, tetapi kalian masih bisa dengan mudah memahami gerak tubuh orang di seberangnya.
 
Seperti yang sedang terjadi saat ini. Gadis itu melirik berkali-kali ke depan, ia sedang menunggu. Menunggu pemuda itu beranjak berdiri, kemudian turun untuk makan siang. Resah sekali ia. Seperti kemarin, hari ini gadis itu ingin berpura-pura tidak sengaja berbarengan turun dengannya. Sedikit saling menyapa di lift, lantas sedikit basa-basi sebelum berpisah menuju tempat makan “favorit” masingmasing. Tetapi nampaknya pemuda itu tidak menunjukkan tanda-tanda akan mengakhiri pekerjaannya.
 
Detik demi detik, waktu berjalan terasa amat lambat. Istirahat siang tinggal tiga puluh menit lagi. “Ayolah, lakukan saja,” bujuk separuh jantungnya. “Bodoh! Kau hanya akan mempermalukan dirimu saja!” separuh jantungnya lagi menyela dengan sinisnya.
 
Dan setelah sekian menit lagi berkutat dengan keraguannya, akhirnya gadis itu nekad memberanikan diri berjalan menghampiri, toh ia bisa berpura-pura menuju toilet yang memang harus melewati meja pemuda itu jika rencananya terpaksa berubah. Sedikit gugup, seperti hari-hari yang lalu, melangkahlah kakinya mendekat.
 
“Nggak makan siang, Zhar?” gadis itu berusaha menegur senormal mungkin, tersenyum selepas mungkin.
 
Pemuda itu mengangkat kepalanya. Balas tersenyum. Menggeleng.
 
“Masih banyak kerjaan. Kamu sendiri, nggak makan?”
 
“Malas. Nggak ada teman turun!” gadis itu tersenyum mengangkat bahu, menanti harap-harap cemas reaksi pemuda itu. Si pemuda ternyata hanya balas mengangkat bahu,
 
“Mungkin kamu bisa bareng, Sinta. Kayaknya dia juga belum makan!”
 
Begitulah.
 
Gadis itu sekian detik kecewa, sia-sia sudah, tak ada lagi yang bisa dilakukannya selain beranjak lemah melangkah menuju pintu keluar. “Seharusnya, si bodoh itu bilang, ‘Ah, kebetulan sekali. Aku juga belum makan. Mau kutemani?’ Dasar bodoh!” umpatnya dalam hati. Atau karena ia kurang jelas menyampaikan maksudnya? Seharusnya ia bilang saja langsung, “Kamu mau menemaniku?” seperti yang seringkali dilakukan Susi saat menggoda manajer lantai sepuluh.
 
Tetapi itu tidak mungkin dilakukannya kan? Ia bukan type Susi yang agresif. “Seharusnya si bodoh itu cukup mengerti,” umpatnya sekali lagi.
 
***
 
Berkali-kali ia melirik gadis di seberangnya. Menunggu tak sabaran. “Kapan lagi ia akan turun makan siang?” serunya dalam diam. Apakah ia harus melangkah mendekatinya, lantas mengajaknya makan siang bersama, seperti yang selalu dianganangankannya? Tidak. Ia tidak pernah memiliki keberanian untuk melakukannya.
 
Kegelisahaan pemuda itu semakin memuncak, istirahat siang tinggal tiga puluh menit. “Ayolah, berdiri,” mohonnya dalam-dalam. Ia menangkupkan kedua telapak tangannya.
 
Dan akhirnya wanita itu berdiri juga dari tempat duduknya. “Ya Tuhan, semoga ia melewatiku. Please, God!” si pemuda bersorak penuh harap. Tentu saja gadis itu harus melewatinya, karena pintu keluar terletak dekat mejanya.
 
Suara sepatu gadis itu terdengar memenuhi gendang telinganya. Si pemuda dengan segala upaya terus berpura-pura menatap layar komputer, mengisikan sembarang angka ke dalam kotak kosong. Tentu saja semua pekerjaannya sudah rampung setengah jam yang lalu. Sedari tadi ia sudah ingin turun makan siang, tetapi seperti dua hari lalu, ia ingin sekali berpura-pura tidak sengaja berbarengan turun dengannya. Sedikit saling menyapa di lift, lantas sedikit basa-basi sebelum berpisah menuju tempat makan “favorit” masingmasing.
 
Gadis itu semakin dekat, detak jantung si pemuda semakin kencang. Ia bersiap-siap hendak bangkit dari duduknya. Paling sial jika ia tidak berani mengikutinya, mungkin ia bisa berpura-pura menuju toilet, bukankah letaknya searah dengan pintu lift? Yang penting ia bisa sekadar tersenyum menyapanya.
 
“Nggak makan siang, Zhar?” ternyata gadis itu justru menegurnya, sambil tersenyum.
 
Meluncurlah sepuluh kembang api besar di jantung si pemuda. Ini diluar rencananya, apalagi dengan senyum itu. Ya Tuhan, gelagapan si pemuda bingung hendak menjawab apa.
 
“Masih banyak kerjaan. Kamu sendiri, nggak makan?”
 
Hanya itu yang keluar dari mulutnya. Sekadar menggeleng patah-patah, dan tersenyum dengan muka kebas. “Semoga ia tidak melihat tampang tololku,” keluh pemuda itu dalam hati.
 
“Malas. Nggak ada teman turun!” gadis itu tersenyum sambil mengangkat bahu.
 
Separuh jantungnya sontak berteriak, come on man, sekaranglah waktunya, ajak ia makan siang bersama. Bukankah ia “mengundang”mu? Tetapi separuh jantungnya yang lain gemetar tak tahu harus bilang apa. Senyuman dan kerlingan gadis itu telah mematikan otaknya berpikir, dan di tengah kegaguan ia justru berkata, “Mungkin kamu bisa bareng, Sinta. Kayaknya dia juga belum makan!”
 
Ya ampun, apa yang telah kukatakan, si pemuda menekuk lututnya. Perutnya tiba-tiba melilit menyesali kebodohannya. Dan gadis itu dengan amat anggun hilang dari pandangan.
 
***
 
Hari ini jum’at. Besok dan lusa libur. Gadis itu sudah merencanakan untuk berlibur keluar kota, tapi undangan pernikahan anak direktur membatalkan rencananya. Lagipula bukankah itu berarti semua orang akan hadir di sana, dan jika semua orang hadir itu berarti pemuda itu juga akan datang. Ia senyumsenyum sendiri. Otaknya terbungkus oleh harapanharapan.
 
Setidak-tidaknya di sana ia bisa mencari berbagai alasan untuk duduk di dekatnya. Berbincang tentang apa saja. Dan jika sedikit beruntung mungkin saja bisa pergi-pulang ke tempat pesta bersama-sama. Membayangkannya saja gadis itu sudah tidak bisa berkata-kata lagi.
 
Tetapi semenjak undangan itu dibagikan seminggu yang lalu, pemuda itu dalam sedikit kesempatan mereka bertemu di lift saat berangkat kerja (ia sengaja menunggu di lobby sampai pemuda itu tiba), saat makan siang, dan saat pulang kerja (ia sengaja menunggu pemuda itu membereskan mejanya sebelum turun pulang) pemuda itu sedikit pun tidak pernah menyinggung soal pesta pernikahan. Bagaimana hendak menyinggungnya, jika selama ini mereka sekadar saling ber-hai apa kabar saja. Berkali-kali gadis itu membujuk jantungnya agar berani bertanya, “Minggu depan, kamu datang gak ke tempat pernikahan Vania?” tapi ia selalu gagal.
 
Jum’at semakin senja. Kesempatannya untuk menjadikan mimpi-mimpi itu menjadi nyata semakin tipis. Ia harus melakukannya jika tidak maka musnah sama sekali harapan itu. Dan setelah bergulat habishabisan meneguhkan diri, gadis itu beranjak mendekati pemuda itu. Gemetar kakinya melangkah, “Ya Tuhan, tolonglah….” seru batinnya lirih.
 
“Hai, Zhar. Kamu lagi sibuk?”
 
Kentara sekali kata-katanya bergetar saking gugupnya. Gadis itu membujuk jantungnya segera tenang. Tersenyum amat kaku. Pemuda itu mengangkat kepalanya, balas tersenyum. Menghembuskan nafasnya dalam-dalam.
 
“Iya nih. Kayaknya aku lembur malam ini!”
 
“Kamu hari minggu datang ke resepsi Vania, gak?”
 
Gadis itu berdiri sambil diam-diam menyilangkan jari telunjuk dan jari tengahnya. Please, God.
 
“Belum tahu. Lihat besok. Kamu nggak kesana?”
 
“Belum ada teman. Malas kalau sendirian!”
 
Ya Tuhan, orang bodoh sekali pun tahu apa maksud hatinya. Tetapi pemuda itu hanya menatapnya lamat-lamat, kemudian sambil menggeleng, pelan berkata,
 
“Si Sinta katanya harus menjenguk ibunya!”
 
Lumat sudah harapan gadis itu, dengan lemah ia berkata, “Ya, ibunya sakit, sepertinya aku harus berangkat sendirian.”
 
“Dasar bodoh. Bodoh. Bodoh sekali,” umpat gadis itu dalam hati. Jika sudah begini apalagi yang harus dilakukannya?
 
“Hai, Dahlia. Kamu belum punya teman pergi ke pernikahan Vania?” pemuda lain yang dari tadi berdiri membereskan berkas di mejanya, di sebelah mereka, menyela pembicaraan. Gadis dan pemuda itu menoleh serempak ke muasal suara. Andrei, nama pemuda itu, dan ia tersenyum jantan mendekati Dahlia.
 
“Aku juga belum punya barengan. Kamu mau bareng aku? Bagaimana? Nanti aku jemput kamu pagi-pagi ya!”
 
Gadis itu hendak mengangkat bahunya: keberatan. Tetapi hatinya yang berkali-kali mengumpat, “Dasar bodoh, harusnya kau melakukannya seperti Andrei. Harusnya kau menyela dan berkata, ‘ia tidak akan pergi bersamamu, ia akan pergi bersamaku’” kesal sekali, dan tanpa disadarinya ia justeru menganggukkan kepalanya. Andrei tersenyum senang, sambil memegang bahu gadis itu ia berkata menggoda, “Oke, sayang. Sampai ketemu hari minggu! Jangan lupa, dandan yang cantik.”
 
***
 
Hari ini jum’at. Besok dan lusa libur. Sudah seminggu ini pemuda itu menanti-nanti kesempatan untuk bertemu lebih lama dengan gadis itu, sekadar untuk bilang, “Hai, kamu mau pergi bareng aku ke pernikahan Vania, gak?” ia butuh waktu kurang lebih lima menit untuk berbincang dan mengajaknya pergi bersama.
 
Dengan hanya bertemu di lift saat berangkat kerja (ia sengaja menunggu di lobby sampai gadis itu tiba), saat makan siang, dan saat pulang kerja (ia sengaja menunggu gadis itu membereskan mejanya sebelum beranjak turun) itu sama sekali tidak cukup untuk membicarakan masalah ini. Apalagi mereka hanya saling ber-hai apa kabar, tersenyum kaku, lantas berdiam diri dalam dengungan suara lift yang bergerak.
 
Berkali-kali ia membujuk jantungnya untuk mendekati meja gadis itu. Bertanya langsung padanya, “Apakah kau mau pergi bersamaku,” tapi berkali-kali pula ia gagal meneguhkan diri. Sore jum’at semakin senja. Kesempatannya untuk menjadikan mimpi-mimpi itu menjadi nyata semakin tipis. Ia harus melakukannya, jika tidak ia akan menyesalinya seumur hidup. “Lakukan sekarang juga, Zhar,” bisikan itu semakin kencang.
 
Dan pemuda itu di ujung keputus-asaan akhirnya nekad juga memutuskan. Tetapi saat ia siap berdiri dari duduknya, gadis itu justeru terlihat berdiri dari mejanya. Melangkah menujunya. “Ya Tuhan, semoga ia melewatiku, please God.” Desak batinnya kuat-kuat. “Jika ia melewatiku, aku berjanji akan menanyakan soal itu,” janjinya untuk kesekian kali.
 
Suara sepatu gadis itu terdengar semakin keras di telinganya. Ia semakin dekat, dan debar jantungnya semakin kencang. Dengan meneguhkan hati pemuda itu bersiap untuk menyapa,
 
“Hai, Zhar. Kamu lagi sibuk?”
 
Gadis itu sambil tersenyum ternyata lebih dahulu menyapanya. Pemuda itu kaku seketika. Kata-katanya hilang menyentuh udara. Berusaha tersenyum senormal mungkin. Menarik nafas dalamdalam.
 
“Iya nih. Kayaknya aku lembur malam ini!” Ya Tuhan, padahal pekerjaan untuk minggu depan pun sudah kurampungkan.
 
“Kamu hari minggu datang ke resepsi Vania, gak?”
 
Gadis itu tersenyum semakin manis. Pemuda itu duduk semakin kebas. Ayolah katakan. Ajak dia. Ayolah katakan. Tetapi separuh jantungnya yang lain gemetar ketakutan. Kau hanya akan mempermalukan diri sendiri, bodoh. Bagaimana kalau dia menolak?
 
“Belum tahu. Lihat besok. Kamu nggak kesana?”
 
Ya Tuhan, apa yang telah kukatakan, pemuda itu mengumpat berkali-kali. Seharusnya langsung saja mengajaknya pergi bersama. Senyuman gadis ini membuatnya sedikit pun tidak bisa berpikir sehat lagi.
 
“Belum ada teman. Malas kalau sendirian!”
 
Ayolah katakan. Ajak dia. Bukankah ia telah memberikan kode padamu. Sedikit lagi…. tak terlalu susah. Pemuda itu mencengkeram keras-keras kursinya. Apa sulitnya mengatakan itu, bentak separuh jantungnya. Dan tanpa ia sadari, di tengah usahanya membujuk separuh jantungnya yang lain, ia menggeleng-gelengkan kepalanya. Ia teringat Sinta, mungkin dengan menyela pembicaraan ini dengan kabar soal Sinta akan sedikit membantu, maka tanpa menyadari akibatnya sedikit pun pemuda itu justeru berkata,
 
“Si Sinta katanya harus menjenguk ibunya!”
 
Tidak. Ia sama sekali tidak bermaksud menolaknya. Tetapi gadis itu dengan tetap tersenyum berkata pelan, “Ya, katanya sakit, sepertinya aku harus berangkat sendirian.”
 
Ya Tuhan, kerusakan apa yang telah kuperbuat?
 
“Hai, Dahlia. Kamu belum punya teman pergi ke pernikahan Vania?” pemuda lain yang dari tadi berdiri membereskan berkas di mejanya, di sebelah mereka, menyela pembicaraan. Gadis dan pemuda itu menoleh serempak ke muasal suara. Andrei, nama pemuda itu, dan ia tersenyum jantan mendekati Dahlia. “Aku juga belum punya barengan. Kamu mau bareng aku? Bagaimana? Nanti aku jemput kamu pagi-pagi ya!”
 
“Tolonglah. Jangan. Jangan katakan setuju,” pemuda itu memohon dalam hatinya. “Jangan sampai kau pergi dengan bajingan ini. Ia playboy kelas kakap, dan kau akan terperangkap.” Tetapi gadis itu justeru tersenyum menganggukan kepalanya.
 
Andrei tersenyum senang, sambil memegang bahu gadis itu ia berkata menggoda, “Oke, sayang. Sampai ketemu hari minggu! Jangan lupa dandan yang cantik.”
 
***
 
Ia mengharapkan pagi ini pemuda itu yang datang menjemputnya. Tetapi justru Andrei yang datang parlente memencet bel. Tak tahu malu, Andrei mengaku sebagai pacarnya. Dan gadis itu dengan terpaksa tersenyum masam menanggapi godaan ibu dan bapaknya, “Akhirnya, anak gadis kami pergi dengan teman lelakinya. Nak Andrei jangan sampai kau membuatnya menangis, loh!” Itu kata ayah gadis itu sambil tersenyum di balik pagar. Dan pemuda playboy ini tersenyum begitu meyakinkan menggandengnya.
 
Semua teman kantor bersuit saat melihat mereka tiba di ruang resepsi, Susi pun sempat berbisik pelan, “Gila lu, katanya pemalu. Ternyata yang kakap begini berhasil juga lu gaet!” mukanya memerah. Dengan tingkah laku Andrei yang sangat berpengalaman, gadis itu merasa di dahinya seakanakan tertempel baliho besar yang menunjukkan kalau mereka berdua benar-benar pasangan hebat. “Bodoh, seharusnya kaulah yang bersamaku sekarang,” umpatnya dalam hati, mencari sosok pemuda itu dalam keramaian. Dan si bodoh itu ternyata berdiri tak acuhnya di pojok ruangan. Menyendok koktail. Seolah tak peduli kehebohan yang sedang terjadi.
 
Ketika tiba saatnya berfoto, semua teman-teman berkumpul di sebelah panggung, bersiap menunggu MC menyebutkan giliran mereka: lantai sebelas. Ketika olok-olok semakin ramai saat mereka berkumpul, si bodoh ini justeru semakin tak peduli.
 
“Ah ini dia si Azhar, kamu udah lihat Dahlia kan. Gila, serasi bukan!”
“Seharusnya kau menirunya Zhar. Pendiam, tapi diam-diam bawa gebetan!”
Yang lain tertawa ramai sekali.
“Andrei, kalau lu sedikit saja membuat Dahlia menangis, kutikam kau!” seru seseorang lagi, dan Andrei sambil merengkuh bahu Dahlia tersenyum lebar, seolah menunjukkan, jangankan menangis, membuatnya murung saja takkan ia lakukan.
 
Gadis itu kusut sekali dengan senyum tanggungnya. Berkali-kali ia melirik pemuda itu. “Ya Tuhan, seharusnya yang kau lakukan saat ini memegang kerah Andrei, dan menonjoknya kuatkuat, dasar bodoh, dan bukan justru sebaliknya ikutikutan tertawa.”
 
Gadis itu tersenyum getir.
 
***
 
Pagi ini seharusnya ia-lah yang sambil bersiul datang memencet bel rumah gadis itu. Tersenyum takzim menyapa calon mertua. Tetapi lihatlah, ia justeru kacau berdandan seadanya, memakai kemejakusut dasi-berdebu, berjalan gontai menghidupkan kendaraan, berpikir gadis itu pasti sedang tertawa bahagia bersama playboy kelas kakap itu.
 
Semua teman kantor bersuit saat melihat mereka tiba di ruang resepsi. Dengan tingkah laku Andrei yang sangat berpengalaman, mereka benar-benar kelihatan seperti pasangan hebat. Gadis itu terlihat tersenyum kemana-mana, mengumbar kebahagiannya. “Begitu mudahkah ia terpikat dengan playboy itu?” dengan masam pemuda itu menyendok koktail di pojok ruangan. Jantungnya pedih sekali.
 
Ketika tiba saatnya berfoto, semua teman-teman berkumpul di sebelah panggung, bersiap menunggu MC menyebutkan giliran mereka: lantai sebelas. Ketika olok-olok semakin ramai ketika mereka berkumpul, gadis itu justeru terlihat tersenyum semakin bahagia. “Ia benar-benar menikmatinya,” bisiknya lirih.
 
“Ah ini dia si Azhar, kamu udah lihat Dahlia kan. Gila, serasi bukan!”
“Seharusnya kau menirunya Zhar. Pendiam, tapi diam-diam bawa gebetan!”
Yang lain tertawa ramai sekali.
“Andrei, kalau lu sedikit saja membuat Dahlia menangis, kutikam kau!” seru seseorang lagi, dan Andrei sambil merengkuh bahu Dahlia tersenyum lebar, seolah menunjukkan, jangankan menangis, membuatnya murung saja takkan ia lakukan.
 
Gadis itu tersenyum, semakin mengembang. “Bah. Ia sedikit pun sama sekali tidak menatapku,” bisik pemuda itu dalam hening. Berkali-kali melirik mencoba memberikan kode. “Lihatlah aku, Dahlia. Please. Bukankah aku lebih baik darinya? Sesungguhnya apa yang kau cari?” terluka pemuda itu meratap dalam diam. Dan ketika mereka berfoto bersama. Bajingan itu merengkuh lebih erat lagi bahu gadis itu.
 
Dan ketika semua teman-teman lantai sebelas turun, mereka berdua masih berdiri di sana, berfoto berempat bersama kedua mempelai. Gadis itu sekali lagi tersenyum amat bahagia. “Senyum mempelai wanita saja kalah,” umpat pemuda itu dalam hati. Maka semenjak detik itu, si pemuda dengan jantung tercabik-cabik mengubur dalam-dalam segenap cintanya.
 
“Cinta memang tak pernah adil,” keluhnya terluka.
 
***
Extended:
 
“Hai!” Gadis itu tersenyum.
“Hai!” Pemuda itu juga tersenyum.
Pintu lift menutup pelan. Keheningan kemudian menyelimuti. Tak pernah ada yang bisa mendengar dengung lift bergerak, tetapi bagi mereka berdua yang sedang takzimnya, bekas telapak tangan di kaca lift pun terlihat amat jelas. Si gadis sembunyisembunyi melirik. Si pemuda batuk-batuk kecil berusaha mengendalikan perasaannya. Mereka bertatapan sejenak. Gelagapan bersama.
“E, mau makan di mana?” si pemuda pura-pura merapikan dasinya. Mukanya merah kebas. Ia tahu persis gadis itu selalu makan di basemen itu. Gadis itu juga tahu persis pemuda itu lebih suka makan di lantai satu.
“Lanti satu! Lu, mau makan dimana, Zhar?”
“Basemen!” Ya ampun, ia sungguh tak tahu kenapa kalimat itu yang keluar dari mulutnya.
Basa-basi saling melambaikan tangan, mereka berpisah saat pintu lift terbuka. Berharap seharusnya mereka saat ini justeru sedang bergandengan menuju kafe di menara atas.
Kafe para pencinta.
 
***
Tinggalkan komentar »

BI

aku menyukaimu, I wish you knew.

Tinggalkan komentar »

Today

Hum, hari ini aku mau cerita, curcol. Boleh ya? Sedikiiit saja. hatiku galau.

Aku bingung harus gimana. Mereka itu, yang menyuruhku berhenti, tidak mengerti bagaimana rasanya. Mereka benar, rasanya sakit, tidak berguna, bodoh. Aku juga tau mungkin mereka hanya tidak ingin aku terluka atau bersedih. Tapi, aku tidak bisa berhenti. Rasanya seperti lebih enak mati. Andai kau tau.

Sebenarnya kalaupun aku tidak berhenti, aku juga tidak bisa apa-apa. Mungkin aku malah akan begitu sedih. Namun aku tidak bisa berhenti. Aku gatau kenapa.

Aku gatau harus apa 😦

 

Tinggalkan komentar »

Selebritis dengan tanda Illuminati

check this out!

http://www.oddepedia.com/top-illuminati-celebrities-exposed/

Tinggalkan komentar »

hati bersih

Marilah kita memohon
kepada Tuhan agar Dia merestui
upaya kita untuk membeningkan hati
dan menjernihkan pikiran kita,
agar kita menjadi pribadi berjiwa kristal.

Pribadi berjiwa kristal memiliki cara-cara
yang membantu sesama untuk
melihat keindahan pada yang biasa,
dan merasakan kehebatan dalam kewajaran.

Dia memampukan sesamanya
merayakan yang sederhana, dan
menginginkan yang telah mereka miliki.

Mario Teguh

Tinggalkan komentar »

okay, well aku sedang bosan dan menanggur, jadi bikin tulisan aja. tapi bingung membuat tulisan apa jadinya ngomongin tentang yang pastinya (mungkin) disukai para cewek. BELANJA! ya, apalagi kalo ada diskon, wuuuh seneng banggeett :p

oke, saya hanya ingin memberi tahu mulai dari akhir desember kemaren, sampai hari ini dan entah sampai kapan ada hujan diskon di Center Point MOG Malang. banyaknya sih buat baju. gila banget diskonnya! baju-baju bermerk seperti Rodeo, Exit, Avenue didiskon banyak banget. bahkan yang harganya 239900 jadi 95000, enakkan kan?? udah buruan ke MOG Malang 😀

Tinggalkan komentar »

Surat untuk Firman

Kawan, kita sebaya. Hanya bulan yang membedakan usia. Kita tumbuh di tengah sebuah generasi dimana tawa bersama itu sangat langka. Kaki kita menapaki jalan panjang dengan langkah payah menyeret sejuta beban yang seringkali bukan urusan kita. Kita disibukkan dengan beragam masalah yang sialnya juga bukan urusan kita. Kita adalah anak-anak muda yang dipaksa tua oleh televisi yang tiada henti mengabarkan kebencian. Sementara adik-adik kita tidak tumbuh sebagaimana mestinya, narkoba politik uang membunuh nurani mereka. Orang tua, pendahulu kita dan mereka yang memegang tampuk kekuasaan adalah generasi gagal. Suatu generasi yang hidup dalam bayang-bayang rencana yang mereka khianati sendiri. Kawan, akankah kita berhenti lantas mengorbankan diri kita untuk menjadi seperti mereka?
Di negeri permai ini, cinta hanyalah kata-kata sementara benci menjadi kenyataan. Kita tidak pernah mencintai apapun yang kita lakukan, kita hanya ingin mendapatkan hasilnya dengan cepat. Kita tidak mensyukuri berkah yang kita dapatkan, kita hanya ingin menghabiskannya. Kita enggan berbagi kebahagiaan, sebab kemalangan orang lain adalah sumber utama kebahagiaan kita. Kawan, inilah kenyataan memilukan yang kita hadapi, karena kita hidup tanpa cinta maka bahagia bersama menjadi langka.

Bayangkan adik-adik kita, lupakan mereka yang tua, bagaimana mereka bisa tumbuh dalam keadaan demikian. Kawan, cinta adalah persoalan kegemaran. Cinta juga masalah prinsip. Bila kau mencintai sesuatu maka kau tidak akan peduli dengan yang lainnya. Tidak kepada poster dan umbul-umbul, tidak kepada para kriminal yang suka mencuci muka apalagi kepada kuli kamera yang menimbulkan kolera. Cinta adalah kesungguhan yang tidak dibatasi oleh menang dan kalah.
Hari-hari belakangan ini keadaan tampak semakin tidak menentu. Keramaian puluhan ribu orang antre tidak mendapatkan tiket. Jutaan orang lantang bersuara demi sepakbola. Segelintir elit menyiapkan rencana jahat untuk menghancurkan kegembiraan rakyat. Kakimu, kawan, telah memberi makna solidaritas. Gocekanmu kawan, telah mengundang tarian massal tanpa saweran. Terobosanmu, kawan, menghidupkan harapan kepada adik-adik kita bahwa masa depan itu masih ada. Tendanganmu kawan, membuat orang-orang percaya bahwa kata “bisa” belum punah dari kehidupan kita.

Tetapi inilah buruknya hidup di tengah bangsa yang frustasi, semua beban diletakkan ke pundakmu. Seragammu hendak digunakan untuk mencuci dosa politik. Kegembiraanmu hendak dipunahkan oleh iming-iming bonus dan hadiah. Di Bukit Jalil kemarin, ada yang mengatakan kau terkapar, tetapi aku percaya kau tengah belajar. Di Senayan esok, mereka bilang kau akan membalas, tetapi aku berharap kau cukup bermain dengan gembira.
Firman Utina, kapten tim nasional sepak bola Indonesia, bermain bola lah dan tidak usah memikirkan apa-apa lagi. Sepak bola tidak ada urusannya dengan garuda di dadamu, sebab simbol hanya akan menggerus kegembiraan. Sepak bola tidak urusannya dengan harga diri bangsa, sebab harga diri tumbuh dari sikap dan bukan harapan. Di lapangan kau tidak mewakili siapa-siapa, kau memperjuangkan kegembiraanmu sendiri. Di pinggir lapangan, kau tidak perlu menoleh siapa-siapa, kecuali Tuan Riedl yang percaya sepak bola bukan dagangan para pecundang. Berlarilah Firman, Okto, Ridwan dan Arif, seolah-olah kalian adalah kanak-kanak yang tidak mengerti urusan orang dewasa. Berjibakulah Maman, Hamzah, Zulkifli dan Nasuha seolah-olah kalian mempertahankan kegembiraan yang hendak direnggut lawan. Tenanglah Markus, gawang bukan semata-mata persoalan kebobolan tetapi masalah kegembiraan membuyarkan impian lawan. Gonzales dan Irvan, bersikaplah layaknya orang asing yang memberikan contoh kepada bangsa yang miskin teladan.
Kawan, aku berbicara tidak mewakili siapa-siapa. Ini hanyalah surat dari seorang pengolah kata kepada seorang penggocek bola. Sejujurnya, kami tidak mengharapkan Piala darimu. Kami hanya menginginkan kegembiraan bersama dimana tawa seorang tukang becak sama bahagianya dengan tawa seorang pemimpin Negara. Tidak, kami tidak butuh piala, bermainlah dengan gembira sebagaimana biasanya. Biarkan bola mengalir, menarilah kawan, urusan gol seringkali masalah keberuntungan. Esok di Senayan, kabarkan kepada seluruh bangsa bahwa kebahagiaan bukan urusan menang dan kalah. Tetapi kebahagiaan bersumber pada cinta dan solidaritas. Berjuanglah layaknya seorang laki-laki, kawan. Adik-adik kita akan menjadikan kalian teladan!

E.S. ITO

 

http://itonesia.com/surat-untuk-firman/

Tinggalkan komentar »

Reaksi

Ada banyak hal
yang bisa terjadi kepada kita,
tapi hanya ada dua macam
reaksi kita, yaitu
reaksi naik atau turun.

Semua kejadian adalah pemberitahuan
untuk memperbarui kehidupan.

Maka barukanlah pikiran, sikap, dan tindakan Anda.

Bereaksilah dengan cara
yang menjadikan Anda lebih besar
daripada yang terjadi kepada Anda.

Apa pun yang terjadi,
janganlah bereaksi dengan cara
yang menurunkan kelas Anda.

Mario Teguh

Tinggalkan komentar »

Tips #1 Menghilangkan Rasa Bosan

Banyak hari setelah ujian sekolah saya menganggur. Pengen keluar rumah tapi hujan dan lagi bokek, alhasil saya cuma bisa mikir harus apa. Saya iseng membuka internet di rumah, membuka situs-situs jejaring sosial yang saya miliki, namun tak kunjung menghilangkan rasa bosa saya.

Akhirnya saya membuka blog yang lumayan lama tidak saya urus ini. saya mencoba menulis sesuatu, ya seperti tulisan ini, dan ternyata hasilnya… rasa bosan saya lumayan hilang. Tersayata saya hanya butuh teman bicara. Ya, sekalipun saya membuka akun facebook atau twitter saya tapi tidak menghilangkan rasa bosan, karena percuma tidak ada teman yang online TT

Haha, jadi tujuan dari tulisan ini adalah untuk menghilangkan rasa bosan saya.

So, intinya untuk menghilangkan rasa bosan, saran saya

#1 menulislah, jika tak ada teman bicara, menulis apa saja, terserah yang penting membuatmu lega (asal tulisan yang positif yaa!)

yak, sekian tulisan dan tips bosan hari ini. tunggu tips yang selanjutnya ya, beri waktu saya mencari obat bosan selanjutnya 😀

Tinggalkan komentar »